Breaking News
Loading...
Wednesday, February 18, 2015

Sirami Bunga Kita Dengan Cinta

Wednesday, February 18, 2015
Awal bulan depan, genap satu tahun pernikahan kita. Sementara bunga kecil di perutmu  sudah mulai mendesak-desak ingin keluar, hmm... tak terasa sebentar lagi bunga itu  akan keluar dan menghiasi harum rumah kecil ini. Dik, sungguh aku sudah tidak sabar  untuk menciuminya sepuasku hingga tak satupun orang lain kuberikan kesempatan mencium  dan memeluknya sebelum aku, ayahnya, bosan menciumnya.

Sirami Bunga Kita Dengan Cinta

Satu tahun empat bulan yang lalu, aku masih ingat saat datang ke rumahmu untuk  berkenalan dengan keluargamu. Takkan pernah hilang dalam ingatanku, betapa  kedatanganku yang ditemani beberapa sahabat untuk berkenalan malah berubah menjadi  sebuah prosesi yang aku sendiri tidak siap melakukannya, yah... aku melamarmu dik....

Padahal, baru satu minggu sebelum itulah kita berkenalan di rumah salah seorang  sahabatmu. Waktu itu, aku tak berani menatap wajahmu meski ingin sekali aku beranikan  diri untuk mengangkat wajahku dan segera menatapmu. Tapi, entah magnet apa yang  membuatku terus tertunduk. Kenakalanku selama ini ternyata tidak berarti apa-apa  dihadapanmu, kurasakan sebuah gunung besar bertengger tepat di atas kepalaku dan  membuatku terus tertunduk.

Dik, aku juga masih ingat dua hari setelah pernikahan kita, kamu masih tidak mau  membuka jilbab didepanku meski aku sudah sah sebagai suamimu. Tidurpun, kita masih  berpisah, kamu diatas kasur empuk yang aku belikan beberapa hari sebelum pernikahan, sementara aku harus kedinginan tidur dilantai beralaskan selimut.

Hmm, aku masih sering tersenyum sendirian kala mengingat kata-kataku untuk merayumu  agar mau membuka jilbab. "Abang cuma ingin tahu, istri abang nih ada telinganya nggak  sih". Kata-kata lembutku pada malam ketiga itu langsung disambar dengan pelototan  mata indahmu. "Teruslah dik, mata melotot adik takkan pernah membuat abang takut atau  menyerah, malaaah, adik makin terlihat cantik, makin jelas indahnya mata adik".

Setelah kata-kata itu meluncur dari mulut jahilku, bertubi-tubi pukulan sayang  mendarat di tubuh dan kepalaku karena adik menganggap aku meledekmu. Tapi waktu itu,  aku justru merasakan kehangatan pada setiap sentuhan tanganmu yang mengalir bak air  di pegunungan. Karena aku yakin, dibalik pukulan-pukulan kecil itu, deras kurasakan  cintamu seiring hujan yang turun sejak selepas maghrib.

Indah bunga seroja di taman mungkin takkan pernah bisa mengungkapkan eloknya cinta  kita, cinta yang didasari atas kecintaan kepada Allah. Allah-lah yang menciptakan  hati, jiwa dan ragamu begitu rupa sehingga aku mencintaimu. Aku pun berharap, atas  dasar cinta Allah pulalah adik mencintaiku. Karena hanya dengan cinta karena Allah,  cinta ini akan terus berbunga dan mewangi selamanya.

Cinta hakiki adalah cinta kepada zat yang menciptakan cinta itu sendiri, begitu  seorang bijak berkata. Cinta tidak dirasa tanpa pengorbanan, kasih sayang bukan  sekedar untaian kata-kata indah, dan kerinduan yang terus takkan pernah terwujud  jika hanya sebatas pemanis bibir, tambah sang bijak.

Langit akan selamanya cerah, bila kita suburkan cinta ini. Mentari takkan pernah  bosan bersinar selama kasih antara kita tetap terpatri dan rembulan pun tetap  tersenyum, selama kita isi hari-hari dengan segala keceriaan yang jujur.

Tak terasa, malam semakin larut dik. Baru saja kudengar dentang jam berbunyi  duabelas kali. Sementara tangan ini masih asik dengan pena dan secarik kertas putih.  Kan kutulis semua rasa bathinku malam ini, semua keindahan, kehangatan, dan hidup  dibawah naungan cinta bersamamu karena Allah. Tapi, maafkan aku dik, karena aku juga  akan mengkabarimu hal yang tidak pernah kuceritakan kepadamu sebelumnya.

Kau sandarkan kepalamu di dadaku, lelap sudah malam menghantarmu tidur. Tapi, ah... bunga kecil kita ternyata belum tidur dik... sesekali kurasakan sentuhan kakinya  dari dalam perutmu. Rupanya bunga kecil itu sudah mengenaliku sebagai ayahnya,  kurasakan berkali-kali diberbagai kesempatan berdampingan denganmu, tangan-tangan  kecilnya berupaya menggapai dan menyentuhku seakan memintaku untuk segera
menggendongnya.

Malam ini, ada tangis dihatiku yang tidak mungkin aku curahkan padamu. Karena aku  tahu, kaupun sudah cukup sering menahan tangismu agar tidak terlihat olehku. Jadi,  mana mungkin aku menambahinya dengan air mataku yang mulai menggenang di bibir  kelopak mataku ini.

Sebagai suami, aku merasa belum mampu membahagiakanmu dik. Nafkah yang kuberikan  kepadamu setiap bulan, tidak pernah cukup bahkan untuk dua minggu pun. Sehingga  untuk keperluan dua minggu berikutnya, aku harus meminjamnya dari teman-temanku  tanpa sepengetahuanmu dan aku hanya membisikimu, "rizqumminallaah".

Setahun kita menikah, tak sehelaipun pakaian kubelikan untukmu. Bahkan aku sering  menangis, saat mengajakmu pergi, adik harus bingung mencari-cari sandal yang layak  dipakai. Tak pernah aku mengajakmu untuk berjalan-jalan, karena aku selalu disibukkan dengan segala urusanku, tak peduli hari libur. Aku selalu berharap adik tampil cantik dan segar sepanjang hari, tapi tak pernah kubelikan adik alat-alat kecantikan. Dan  yang terakhir, aku tak kuasa mengingatnya dik, meski berat kita harus melalui  saat-saat kita makan dengan makanan seadanya, bahkan tidak jarang kita berpuasa.  Waktu itu adik bilang, "Biarlah bang, adik lebih rela makan sedikit dan seadanya  daripada kita harus berhutang, karena hidup tidak akan tenteram dan selalu merasa  dikejar-kejar".

Sebentar lagi, bunga kecil itu akan hadir dik. Akankah aku, ayahnya, membiarkannya  tumbuh dengan apa adanya seperti yang aku lakukan terhadapmu dik. Bersyukurlah ia  karena mempunyai ibu yang sholehah dan selalu menjaga kedekatannya dengan Allah.  Karena, walau gizi yang diberikannya kelak tidak sebanyak kebanyakan anak-anak  lainnya, tetapi ibunya akan mengalirkan gizi takwa dihatinya, mengenalkan Allah  sebagai Rabb-nya, Muhammad sebagai tauladannya dan mengajarkan Al Qur'an sebagai  petunjuk jalannya kelak. Ibunya akan mengajarkan kebenaran kepadanya sehingga mampu  membedakan mana hak dan mana bathil,

Dik, jika ia lahir nanti, sirami hatinya dengan dzikir, suburkan jiwanya dengan  lantunan ayat-ayat suci Al Qur'an, hangatkan tubuhnya dengan keteguhan menjalankan  dinnya, baguskan pula hatinya dengan mengajarkannya bagaimana mencintai Allah dan  Rasul-Nya, ajarkan juga ia berbuat baik kepada orangtua dan orang lain, bimbinglah  ia dengan ilmu yang kau punya, sehingga dengan ilmu itu ia tidak menjadi orang yang  tertindas. Jadikan jujur sebagai pengharum mulutnya serta kata-kata yang benar, baik, lembut dan mulia sebagai penghias bibirnya. Sematkan kesabaran dalam setiap  langkahnya, taburi pula benih-benih cinta di dadanya agar ia mampu mengukir cinta  dan kasih sayang dalam setiap perilakunya, dan yang terakhir kenakan takwa sebagai pakaiannya setiap hari. 

Sirami Bunga Kita Dengan Cinta

Jika demikian, insya Allah harapan dan do'a kita untuk tetap bersama sampai di surga kelak akan lebih mudah kita gapai. Aku berharap, engkau membaca surat yang kuselipkan di bawah bantalmu malam ini. Dan jika kau telah membacanya esok pagi, jangan katakan apapun kecuali ciuman hangat di tanganku. Karena dengan begitu, aku tahu kau telah membacanya. (Bayu)

0 komentar:

Post a Comment

Berkomentarlah Dengan Baik Dan Sopan
Berkomentarlah Sesuai Dengan Topik Artikel

 
Toggle Footer