Breaking News
Loading...
Friday, February 13, 2015

Buku Warisan Ibu

Friday, February 13, 2015
Pada Kali ini Seo Blog Jr akan menampilkan cerita yang menginspirasi yang berjudul Buku Warisan Ibu.

Buku Warisan Ibu


Likuk waktu tidak ada yang mengerti itu punya siapa, untuk menentukan yang terjadi selanjutnya atau tebak menebak hal apa yang terjadi berikutnya. Semuanya penuh rahasia dalam usaha penelitian untuk menguaknya kembali. Sekali waktu sekarang adalah aku sudah cukup renta untuk melakukan apapun. Dalam sunyiku cukup sudah kesendirian menemani dalam siang dan malamku. Ketakutan-ketakutan melangkah ketika dulu menjauh kan harapan-harapan manis yang sudah dimiliki orang-orang yang pernah kukenal dahulu.

Aku setiap pagi mengepak sayap sebuah kerjaan kumulai dengan mengeja perlahan dalam kegaguan ku tentang susunan abjad yang membingungkan. Sorenya seperti itu juga yang kulakukan, sampai berhari-hari tak pernah kutinggalkan pelajaran-pelajaran di renta tuaku.

Pagi ini rasaku sama seperti hari-hari sebelumnya yang telah kulalui, sebelum belajar kumulai, ku solat subuh dulu dengan bacaan yang berantakan rasaku, sampai setelah itu kuberikan sentuhan kopi pahit sekali untuk membuatku segar selalu.
Pagi yang cerah dengan mentari apik mengudara diufuk timur, kulihat ada anak kecil dengan badan yang gempal, raut wajah yang bahagia, baju kumuh berantakan saja, dan langkah kaki sambil berucap “la. Lala. Lalala.” Anak ini tak pernah kulihat sebelumnya dan aku baru pertama kali melihat ada anak orang sini yang begitu seseceria ini. Untuk menemani gusar kesendirianku aku memanggilnya untuk dapat menemaniku menghitung awan yang berdiam dan pergi dari pandanganku.

“Gendut” panggilku dibarengi terbatuk-batuk.
“Ia kek, ada apa kek?” jawabnya dengan menolehkan wajah cerianya
“Sini dulu, temani kakek”.  Dan tanpa dijawabnya langsung ditemaninya ku yang duduk ditangga rumahku.

Suguhan tawanya diberikannya di awal perjumpaan ini, tanpa banyak bicara kupersilahkan bocah gendut itu duduk disampingku. Sembari itu kutanyakan juga tentang dia yang dia anak siapa, rumahnya dimana, dan mau kemana. Satu persatu dijawabnya dengan keceriaannya. Dia ternyata bukanlah orang sekitar kampung melainkan hanya menumpang menginap di rumah saudaranya. Rumah anak ini pun sangat jauh terletak di pulau kalimantan sana. Aku tak menggali lebih banyak tentangnya dan namanya Somad. Kutanya dia selanjutnya dengan pertanyaan yang berat jika seandainya aku yang ditanyakan seperti pertanyaanku ini.

“Sudah pandai membaca kau Mad?” itu saja dulu yang kutanyakan padanya.
“Bisa kek, bunda setiap hari ngajari somad kek membaca. Kenapa kek?” jawabnya polos tetap dengan keriangannya yang liar melihat kedalam rumahku.
“Begitu kah mad.? Kalau begitu tung... gu .. ya....” kulangsung bergegas pergi ke dalam kamar untuk mengambil warisan peninggalan ibu ku dulu.

Cepat langkahku sambil tergopoh aku keluar kamar dengan tulangku yang sudah besakitan tetapi mendengar jawabannya tadi aku tahu takdir akan berubah sekarang. Kujumpai dia lagi dan membawakan yang menjadi warisan ibu ketika aku masih seumuran Somad. Dia tersenyum dan menahan tawanya melihat apa yang kubawa hingga menunjukkan kelucuan bagiku dan memberikan pemikiran baru bahwa aku ini bodoh.
“Mad. Sini bisakah kau bacakan buku ini mad?” aku memberikan buku warisan satu-satunya ibuku padanya.
“Bisa kek. Sini kek bukunya” sedia dia membacakannya dan ku berikan kepadanya buku itu sambil ku melihat perlahan-lahan apa yang diucapkannya.

Dibacanya perlahan-lahan apa yang tertulis di buku yang sudah kusam itu. Tetapi rasaku tidak ada yang hilang huruf-hurufnya walaupun sampulnya sudah bolong-bolong. Lancar dia membacanya, dibacanya terus secara perlahan dan perlahan sekali. Kudengarkan sampai tak terasa air mataku tiba-tiba sudah menetes dan menempel di pipi. Dia tak melihat wajahku yang dilihatnya hanya buku itu. Terus dan sampai akhir dia membaca. Aku bertanya padanya itu buku apa dan sambil tertawa kecil dia berujar pelan sedikit berbisik dengan mengucapkan “Cerita si kancil dan buaya kek”. 

Aku baru ingat kisah itu dan sedari tadi dia membacanya tidak kulihat wajah kalut dimiliki apalagi kesusahan menyampaikan kata demi kata. Kisah itu pernah kudengarkan sangat jelas ketika kecil dulu dari balik jendela kelas sekolah tapi aku tidak tahu apa judulnya. Ada kulihat tulisan kecil disitu dengan kalimat yang pendek rasaku dengan bertuliskan tinta pena, kusuruh dia kembali membacakan kalimat yang kutunjuk. Tapi sebelum dia membaca wajahnya tiba-tiba berpaling kepadaku dan hilang tawanya tadi. Aku mulai tak berani menatap wajahnya dalam-dalam, kubertanya di hati 

“Apa rupanya bunyi kalimat pendek itu”. Untuk mematahkan pertanyaan itu kubertanya padanya: 
“Kenapa Mad?”. Dia langsung berujar padaku
“Kakek tidak pandai membaca?” pertanyaan itu sebaiknya tidak usah dipertanyakannya padaku. Tapi itu berhak dipertanyakan oleh siapa saja jika permintaanya seperti ku.

Kutak menjawab pertanyaanya langsung. Kudiam sesaat sambil menelan ludah untuk mengucapkan kata “tidak” tetapi itu berat sekali. Kualihkan sejenak pandanganku darinya dengan menatap langit yang penuh dengan kepingan awan. Namun aku tak mungkin tidak menjawabnya, tarikan nafas panjang kuperbuat lalu kukeluarkan kembali. Dan kukatakan sangat pelan padanya: “tidak Mad?”.

Dia hanya memandangiku seperti gelandangan yang sedang butuh tempat penampungan untuk meneruskan kehidupan. Kupaham itu. Aku lalu melayangkan pertanyaan yang belum sempat dijawabnya. Dia mengucapkan seperti orang yang tak sanggup mengucapkannya. Terbata-bata kali ini dia membaca, apa karena tulisan itu jelek atau bagaimana namun dilahapnya sampai usai. Kumendengarkan dengan penuh antusias padanya. Dan dibacanya kedua kali dengan sangat fasih. Kalimat itu berlafas “NAK. PERGUNAKANLAH WAKTU MU UNTUK MEMBACA. MAAFKAN IBU TAK BISA MENGAJARKAN BANYAK KEPADAMU.”

Aku mengulang kalimat yang dibacakan Somad kepadaku dalam ku mengeja langit pagi ketika juga ku mau terlelap kalimat itu kubaca terbata-bata sampai ku melelapkan semuanya dalam kalbuku.

Semoga Cerita ini bermanfaat dan dapat menginspirasi hidup kita, jangan lupa like dan share ya :)

0 komentar:

Post a Comment

Berkomentarlah Dengan Baik Dan Sopan
Berkomentarlah Sesuai Dengan Topik Artikel

 
Toggle Footer